Cahaya di Hatiku: Cerita Khatam Al-Qur'an Pertama Naureen



Halo teman-teman! Tahu tidak? Hari ini hatiku rasanya seperti balon warna-warni yang terbang tinggi. Aku baru saja Khotmul Qur’an metode Qiroati di TPQ Qolbun Salim, Legok, Tangerang. Senang sekali! Rasanya seperti habis menang lomba, tapi lombanya melawan rasa malas diri sendiri. Hehe.

🚗 Perjalanan Sejak TK

Aku mulai belajar mengaji dari TK, waktu umurku baru 5 tahun. Dulu aku belajar di Al Bayan Ciputat. Setiap hari, Ayah yang setia mengantarku.

Ada hari-hari di mana aku mengantuk sekali di jalan, tapi ada juga hari di mana aku semangat luar biasa. Ayah selalu berpesan: “Pelan-pelan ya Naureen, yang penting rajin.” Kata-kata itu selalu aku ingat sampai sekarang.

🗝️ Menemukan Kunci Harta Karun

Alhamdulillah, sekarang aku sudah bisa membaca dengan lebih baik. Kata Ustazah, bacaanku sudah lumayan fasohah. Aku juga belajar tajwid dan ghorib, serta hafal doa-doa dan surat pendek.

Dulu, huruf-huruf hijaiyah itu seperti teka-teki yang sulit. Tapi sekarang, mereka sudah jadi teman baikku! Membaca Al-Qur'an dengan benar itu rasanya seperti menemukan kunci harta karun. Seru sekali!

✨ Arti "Qolbun Salim"

Di acara khataman tadi, kami menutupnya dengan doa yang indah sekali:

“Allahummarhamni bil Qur’an, waj’alhu lii imaaman wa nuuran wa hudan wa rahmah.”

Aku membayangkan Al-Qur’an itu seperti lampu senter raksasa yang cahayanya masuk ke dalam hati. Kata Ustazah, Qolbun Salim itu artinya Hati yang Selamat.

Aku ingin sekali punya hati yang seperti itu—bersih dan terang—supaya Al-Qur’an bisa terus jadi penunjuk jalanku sampai besar nanti.

Pelajaran hari ini: Membaca Al-Qur'an itu bukan cuma soal suara yang bagus, tapi soal hati yang mau belajar. Doakan Naureen terus rajin mengaji ya, teman-teman!

Tidak ada komentar